Peringati Momentum Hari Tani Nasional, BEM UNRI bersama BEM se-Riau Gelar Aksi Pertanian Tak Berdaulat di DPRD Provinsi Riau

[BEM UNRI | PRESS RELEASE]

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Salam Perjuangan
Hidup Mahasiswa!

[Peringati Momentum Hari Tani Nasional, BEM UNRI bersama BEM se-Riau Gelar Aksi Pertanian Tak Berdaulat di DPRD Provinsi Riau]

Pekanbaru (24/09/2018) — Hari ini yang diperingati sebagai Hari Tani Nasional merupakan momen refleksi bahwasannya pemerintah tidak mampu bahkan tidak becus dalam mensejahterakan petani-petani Indonesia. Agenda Reforma Agraria yang termasuk dalam Nawacita Jokowi – JK yang salah satu tujuannya untuk mencapai ketahanan pangan ternyata hanyalah janji belaka. Data impor Indonesia paruh tahun 2018 (Januari – Juni) menunjukkan impor terbesar dibarang konsumsi Indonesia adalah komoditas pangan. Untuk di Provinsi Riau sendiri, Kelapa Sawit dan Karet yang menjadi komoditas unggulan kini tak lagi bernilai. Harga kelapa sawit tak lebih dari Rp.800/Kg dan karet tak lebih dari Rp.4.000. Kemudian bukti lain ketidakseriusan pemerintah dalam melaksanakan agenda tersebut ialah belum adanya Inpres mengenai Reforma Agraria.

Atas dasar itulah BEM Universitas Riau yang tergabung dalam Aliansi BEM Se-Indonesia dengan jumlah massa sekitar 500 orang menggelar Aksi dengan tagline #PertanianTakBerdaulat #RiauMelarat pada Senin (24/9) dengan titik Aksi Kantor DRPD Provinsi Riau. Penjemputan massa aksi yang dikomandoi oleh Gubernur Faperta Universitas Riau Syahabudin Ahmad dimulai dari kampus bagian panam, kemudian seiring perjalanan menuju titik aksi, massa aksi dari kampus lain seperti BEM Fekonsos UIN Suska Riau, BEM Universitas Abdurrab, dan Politeknik Caltex Riau bersama sama satukan barisan menuju titik aksi.

 

Sekitar pukul 15.25 WIB massa aksi sampai di titik aksi. Kedatangan massa aksi disambut dengan barisan pagar betis polisi didepan maupun dibelakang pagar gerbang kantor DPRD Provinsi Riau di sisi kiri. Mobil water canon dan senjata yang lengkap juga turut membersamai para polisi tersebut.

Selain dari mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi BEM SI, mahasiswa yang tergabung dalam aliansi BEM Se-Riau juga melakukan aksi pada hari ini. Mereka sampai di Kantor DPRD Provinsi Riau pada pukul 15.40 WIB. Kemudian mereka melakukan orasi didepan gerbang Kantor DPRD Provinsi Riau disisi kanan.

Sampai dengan pukul 16.00 WIB, massa aksi yang diantaranya Gubernur-gubernur fakultas dan Presiden Universitas yang hadir melakukan orasi sekaligus negoisasi kepada kepolisian untuk dibukakan gerbang guna melaksanakan shalat asar di dalam masjid, Kantor DPRD Provinsi Riau. Namun permintaan tersebut tidak diterima oleh pihak kepolisian. Sempat terjadi dorong-dorongan antara massa aksi dengan pihak kepolisian, namun lagi-lagi tidak dibenarkan untuk masuk kedalam.

Aksi serentak ini diwarnai dengan pembakaran ban sebagai bentuk kekecewaan mahasiswa atas ketidakbecusan pemerintah dalam mengelola pangan di Indonesia. Massa aksi memblokade jalan dengan pembakaran ban dan menutup jalan menuju Bandara SSQ II. Turut juga pembacaan puisi oleh Sri Agustina dari FMIPA Universitas Riau dan Faldhany Hidayat selaku Menteri Sosial Masyarakat BEM UNRI.

Akhirnya massa aksi memutuskan untuk melakukan shalat asar berjamaah di jalan raya tepat didepan Kantor DPRD Provinsi Riau.

16.15 WIB massa aksi selesai melaksanakan shalat asar. Massa aksi dari Aliansi BEM SI dan massa aksi dari BEM Se-Riau akhirnya menyatukan barisan didepan Gerbang Kantor DPRD Provinsi Riau di sisi kiri. Kemudian proses penyampaian orasi dan negoisasi dilakukan kembali. Karena proses tersebut tidak membuahkan hasil, maka massa aksi laki-laki merapatkan barisan di hadapan pagar polisi. Dorong-dorongan terjadi kembali hingga pada akhirnya massa aksi mendapatkan perlakuan represif dari pihak kepolisian. Ada 7 korban (3 Mahasiswa Universitas Riau, 2 Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Riau, 1 Mahasiswa Universitas Abdurrab, dan 1 Mahasiswi Universitas Abdurrab) menjadi korban dalam kejadian tersebut. Mereka dipukul, ditendang dan diinjak layaknya binatang. Bahkan satu diantara 3 Mahasiswa Universitas Riau yakni M. Kurnia Zen Miza yang menjadi korban tindakan represif aparat kepolisian harus dilarikan ke rumah sakit karena mengalami sesak nafas yang disebabkan karena dipukul dan diinjak oleh aparat kepolisian. Selain mendapatkan perlakuan yang keji, Kurnia juga kehilangan dompet dan handphone.


Memasuki pukul 17.15 WIB massa aksi kembali merapatkan barisan dengan tenang, kemudian menuntut kepada Ketua DPRD Provinsi Riau untuk menemui massa aksi.

Akhirnya pada pukul 17.35 WIB, Dra. Septina Primawati, MM selaku Ketua DPRD Provinsi Riau keluar menemui massa aksi. Kemudian melalui Randi Andiyana selaku Presiden Universitas Riau menyampaikan tuntutan mahasiswa mengenai Pertanian Tak Berdaulat, Perekonomian yang tidak stabil, serta mengecam keras tindakan represif yang dilakukan oleh aparat kepolisian terhadap mahasiswa Universitas Sumatera Utara (20/9) sekaligus yang terjadi pada massa aksi hari ini. Mahasiswa menuntut apa yang menjadi aspirasi-apirasi yang disampaikan tadi untuk disampaikan kepada pemerintah pusat.

Setelah tuntutan disampaikan, pukul 18.00 WIB massa aksi mulai membubarkan diri dengan tertib. Kemudian beberapa diantara massa aksi pergi menuju Polda Provinsi Riau untuk membuat laporan mengenai tindakan represif yang dilakukan oleh aparat kepolisian.

“Negara kita merupakan negara agraris tapi petaninya miris. Dan tujuan aksi kita hari ini jelas untuk menyampaikan aspirasi dan keresahan. Karena rezim Jokowi tidak mampu merealisasikannya yaitu Nawacita Reforma Agraria. Hari ini kondisi pertanian tidak berdaulat, perekomonian ambruk, dan kebebasan dipegang oleh alat penguasa seperti hari ini” tutur Randi Andiyana selaku Presiden Mahasiswa BEM UNRI dalam orasinya. (GT/KH/UM)

Kabinet Harmoni Perubahan
BEM UNRI 2018/2019

#MahasiswaDihantamAparat
#MahasiswaBukanHewan
#SaveDemokrasi
#KEMENSOSPOL2018_2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *