Kenali dan Cegah Kekerasan Seksual

[BEM UNRI | INFO]

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Salam Perjuangan.
Hidup Mahasiswa!

[Kenali dan Cegah Kekerasan Seksual]

Kekerasan seksual merupakan segala macam bentuk perilaku yang berkontribusi atau mengarah pada hal-hal seksual yang dilakukan secara sepihak sehingga memunculkan rasa malu, amarah, benci, perasaan tersinggung dan sejenisnya oleh orang yang menjadi sasaran tindakan.

Pencabulan dan pemerkosaan merupakan beberapa contoh yang sering terjadi dan dialami oleh perempuan. Namun kekerasan seksual tidak hanya berkaitan dengan kasus tersebut. Kekerasan dan pelecehan seksual dapat terjadi baik secara fisik, verbal maupun non-verbal dalam beragam bentuk mulai dari kalimat, siulan, gestur tubuh dengan maksud menggoda, memberikan komentar yang mengarah pada seksualitas seperti cara berpakaian, bentuk tubuh dan gaya seseorang, bercanda atau membuat lelucon dan menyebarkan gosip yang berkaitan dengan seksualitas seseorang. Melihat seseorang dengan pandangan seksual yang mengarah pada bagian tubuh tertentu, memberikan gerak gerik seksual yang tidak diinginkan, meraba tubuh bahkan melakukan tes keperawanan.

Melansir data dari hasil temuan Komnas Perempuan pada tahun 1998 hingga 2013, Komnas Perempuan Republik Indonesia mencatat terdapat 15 jenis bentuk kekerasan seksual.

15 bentuk kekerasan seksual yakni perkosaan, intimidasi seksual termasuk ancaman atau percobaan perkosaan, pelecehan seksual, eksploitasi seksual, perdagangan perempuan untuk tujuan seksual. Prostitusi paksa, perbudakan seksual, pemaksaan perkawinan termasuk cerai gantung, pemaksaan kehamilan, pemaksaan aborsi, pemaksaan kontrasepsi dan stelisasi. Penyiksaan seksual, penghukuman tidak manusiawi dan bernuansa seksual, praktik tradisi bernuansa seksual yang membahayakan atau mendiskriminasi perempuan, kontrol seksual termasuk lewat aturan diskriminatif beralasan moralitas dan agama.

Dikutip dari Psychology Today, tak mudah bagi korban kekerasan seksual untuk berterus terang. Mereka umumnya merasa malu, takut, dan rendah diri atas kejadian yang menimpanya. Bagi korban lebih mudah menyalahkan diri sendiri atas kejadian tak menyenangkan tersebut, daripada membuat pelakunya bertanggung jawab. Korban juga khawatir atas risiko yang ditanggung bila melaporkan kejadian tersebut, misal diancam atau tidak mendapat haknya. Pemikiran seperti ini dapat dimengerti namun tidak benar bila dijadikan sebagai alasan untuk tetap diam. Korban yang mengalami pelecehan atau kekerasan seksual harus mendapat perlindungan, empati dan dorongan/bantuan dari orang-orang disekitarnya dalam mengatasi permasalahan tersebut. Daripada anggapan miring, korban butuh motivasi untuk menyingkirkan rasa malu, marah, belajar bangkit dari trauma, dan menyeret pelaku untuk bertanggung jawab atas tindakannya. Korban yang mengalami tindak pelecehan dan kekerasan seksual harus mendapat perlindungan hukum dari lembaga terkait seperti kepolisian dan komnas perempuan. Selain itu, korban juga perlu berkomunikasi dengan keluarga, kerabat bahkan konseling untuk mencegah dan mengatasi timbulnya perasaan traumatik pada diri korban.

Salam Harmoni.
––––––––––––––––––––
Kabinet Harmoni Perubahan
Kementerian Pemberdayaan Perempuan
@bemunri

#KEMENPP2018_2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *