Saksikanlah Live ▶ DUA SISI “Tuntutan Mahasiswa dan Respon Aparat di Negara Demokrasi”

[BEM UNRI | INFO]

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Salam Perjuangan.
Hidup Mahasiswa!

[Saksikanlah Live ▶ DUA SISI
“Tuntutan Mahasiswa dan Respon Aparat di Negara Demokrasi” ]

Apa Kabar Demokrasi?

Aksi demonstrasi yang dilakukan masyarakat, khususnya mahasiswa, seharusnya diperhatikan oleh pembuat kebijakan. Aksi yang terjadi, menandakan kondisi negara kita sedang tidak baik-baik saja. Demonstrasi bukan untuk “mati konyol”, namun mahasiswa berusaha menunjukkan dan memaksa kebusukan itu untuk keluar dari zona nyamannya. Demonstrasi bukan berarti memberi ancaman berupa fisik kepada pembuat kebijakan, sehingga tindakan represif sebagai respon tidak dapat dibenarkan.

Tindakan represif dari alat negara, menampilkan wajah lain dari negara dalam hal demokrasi. Respon represif dari aparat, seakan-akan menempatkan demonstrasi sebagai sesuatu yang mengancam.

Cukup pengamanan ataupun pengawasan dari aparat sebagai respon,  itu sudah cukup, bukan malah tindakan represif. Dalam hal ini, muncul dua pertanyaan, apakah elit kita tidak siap atau tidak ingin dikritik? Kemudian, apakah ada perbedaan pemaknaan mengenai demokrasi, antara mahasiswa dengan elit dan alat negara?

Dengan melihat pola aksi yang bersifat damai dan tuntutan yang demikian, kemudian respon represif aparat, patutkah kita mengernyitkan dahi sambil tetap berfikir bahwa demokrasi dan kebebasan berpendapat sedang tidak baik-baik saja?

Apakah demokrasi itu telah bersifat klaim semata? Sebegitu menyedihkannya kah kondisi kita?

Padahal sebagai negara yang sudah 3 dekade lebih dalam kurungan rezim otoritarianisme, demokrasi menjadi harga yang patut untuk diperjuangkan, salah satunya perihal kebebasan berpendapat. UUD 1945 pun juga telah memberi dan menjamin berlangsungnya hal tersebut. Akan menjadi riskan ketika pemimpin tidak ingin mendengar suara rakyatnya yang sudah turun ke jalan, terutama jika yang turun ke jalan itu adalah mahasiswa, yang notabene menyuarakan tentang kepentingan umum. Kemudian, jika tindakan represif dari aparat yang didapat sebagai respon atas aksi turun ke jalan, akan menjadi paradoks dalam kebebasan berpendapat.

Reaksi pemerintah melalui alat negara bisa dilihat sebagai jawaban atas cara pandangnya terhadap demokrasi. Hal ini juga dapat dipecah dua, pertama apakah pemerintah dengan jiwa besar mau mendengar keluh kesah rakyatnya yang memutuskan melakukan demonstrasi sebagai langkah terakhir dalam mengajukan pendapat? Kedua, apakah alat negara bisa tidak melakukan tindakan represif ketika rakyat atau mahasiswa melakukan aksi damai? Hal-hal seperti ini menjadi sangat penting untuk disorot, karena dapat menjadi tolak ukur mengenai demokrasi.

Konsensus nasional kita, bahwa pascareformasi kita sama-sama bergerak ke arah demokrasi, janganlah dirusak hanya karena posisi. Kita harus adil sejak dalam fikiran, bahwa pemerintah di Orde Baru melarang aksi demonstrasi karena merusak tatanan sosial-politik yang di bangun rezim, maka pascareformasi aksi demonstrasi itu harus di pandang sebagai masukan untuk pemerintah, atau bahkan laporan dari mahasiswa bahwa kondisi negara kita sedang tidak baik-baik saja.

Ayo, mari kita saksikan bersama diskusi tentang Tuntutan Mahasiswa dan Respon Aparat Negara di Negara Demokrasi bersama Muhammad Fauzul Adzim selaku Presiden Mahasiswa BEM U KBM Unila sekaligus Koordinator Pusat BEM SI pada waktu berikut.

 

Hari/tanggal : Rabu/26 September 2018
Waktu: 20.00 WIB s/d selesai
LIVE STUDIO EPICENTRUM TVONE (Jakarta)

 

Salam Harmoni.
Jaga Harmonisasi.
Serukan Perubahan.

#KEMENKOMINFO2018_2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *