Tuanku Tambusai, Harimau Paderi dari Rokan

[BEM UNRI | TUAH]
.
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Salam Perjuangan.
Hidup Mahasiswa!

[Tuanku Tambusai, Harimau Paderi dari Rokan]

Tuanku Tambusai lahir di Dalu-dalu, Sekarang termasuk dalam wilayah Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau, Kabupaten yang berbatasan langsung dengan Sumatera Utara, pada 5 Oktober 1784 dari pasangan Ibrahim dan Munah. Ibrahim, ayah dari Tuanku Tambusai adalah seorang pejabat tinggi agama di kerajaan Tambusai. Nama kecil dari Tuanku Tambusai adalah Muhammad Saleh.

Sewaktu kecil, Muhammad Saleh diajarkan ilmu bela diri, ketangkasan menunggang kuda, dan tata cara bernegara. Semua itu diajarkan ayahnya.

Untuk memperdalam ilmu agama, Tuanku Tambusai pergi belajar ke Bonjol dan Rao di Sumatera Barat. Di sana, dia banyak belajar dengan ulama-ulama Islam yang berpaham Paderi (Padri).

Perjuangannya dimulai di daerah Rokan Hulu dan sekitarnya dengan pusat di Benteng Dalu-dalu. Kemudian ia melanjutkan perlawanan ke wilayah Natal pada tahun 1823. Tahun 1824, ia memimpin pasukan gabungan Dalu-dalu, Lubuksikaping, Padanglawas, Angkola, Mandailing, dan Natal untuk melawan Belanda.

Dia menjadi pemimpin Paderi pada tahun 1832, setelah Belanda mengangkat Tuanku Mudo menjadi regentBonjol.
Dalam kurun waktu 15 tahun, Tuanku Tambusai cukup merepotkan pasukan Belanda, sehingga sering meminta bantuan pasukan dari Batavia. Berkat kecerdikannya, benteng Belanda Fort Amerongen dapat dihancurkan. Bonjol yang telah jatuh ke tangan Belanda dapat direbut kembali walaupun tidak bertahan lama. Tuanku Tambusai tidak saja menghadapi Belanda, tetapi juga sekaligus pasukan Raja Gedombang (regentMandailing) dan Tumenggung Kartoredjo, yang berpihak kepada Belanda. Oleh Belanda beliau digelari “De Padrische Tijger van Rokan” (Harimau Paderi dari Rokan) karena amat sulit dikalahkan, tidak pernah menyerah, dan tidak mau berdamai dengan Belanda.

Gelar ini bukanlah isapan jempol. Dalam beberapa literatur, misalnya “Perang Paderi di Sumatera Barat 1808-1838” yang ditulis oleh Moh Radjab disebut bahwa Tuanku Tambusai memang sulit dikalahkan, pantang menyerah, dan tidak mau berdamai dengan Belanda.

Keteguhan sikapnya diperlihatkan dengan menolak ajakan Kolonel Elout untuk berdamai. Pada tanggal 28 Desember 1838, benteng Dalu-dalu jatuh ke tangan Belanda. Lewat pintu rahasia, ia meloloskan diri dari kepungan Belanda dan sekutu-sekutunya. Ia mengungsi dan wafat di Seremban,Negeri Sembilan, Malaysia pada tanggal 12 November 1882.

Atas jasa dan perjuangannya, Tuanku Tambusai dianugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden Nomor 71/TK/1995 tanggal 7 Agustus 1995.

Kabinet Harmoni Perubahan
BEM UNRI 2018_2019

#KEMENKOMINFO2018_2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *